Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Tidak Ada Pertentangan di Antara Ayat Al-Qur’an

04.30 Add Comment
Tidak Ada Pertentangan di Antara Ayat Al-Qur’an | al-uyeah.blogspot.com
Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka hal itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahan kalian.” (asy-Syura: 30)

Dia juga berfirman,

Katakanlah, “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami….” (at-Taubah: 51)

Apa makna kedua ayat ini? Bagaimana menggabungkan keduanya, karena seakan-akan bertentangan?

Jawab:

Tidak ada pertentangan di antara dua ayat ini, wahai saudaraku. Allah ‘azza wa jalla menerangkan kepada kita bahwa musibah yang menimpa kita karena sebab perbuatan kita dan Dia menerangkan pula bahwa apa yang terjadi itu adalah dengan ketetapan dan takdir-Nya.

Katakanlah, “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami….” (at-Taubah: 51)

Ilmu Allah, ketetapan, dan kitabah-Nya (penulisan takdir di Lauh Mahfuzh sebagaimana yang diperintahkan kepada qalam/pena) telah mendahului segala sesuatu. Namun Allah ‘azza wa jalla mengaitkan perkara yang memudaratkan kita karena sebab maksiat-maksiat yang kita lakukan, walaupun semua itu juga sudah tertulis dan sudah ditakdirkan. Sebab, kita memiliki upaya, kita yang berbuat, dan kita sendiri yang memilih.

Segala sesuatu terjadi dengan takdir-Nya, sama saja apakah berupa ketaatan ataupun kemaksiatan. Namun, maksiat yang terjadi pada kita itu adalah usaha kita dan amalan kita, karenanya kita akan dihukum. Kita memiliki akal, keinginan, kemampuan, dan amalan. Karena itulah, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka hal itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahan kalian.” (asy-Syura: 30)

Dalam ayat yang lain,

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari kesalahan/ulah dirimu sendiri.” (an-Nisa: 79)

Takdir dan amal usaha tidaklah saling bertentangan. Takdir itu telah terdahulu dan Allah ‘azza wa jalla memiliki hikmah yang tinggi dalam apa yang ditetapkan-Nya. Perbuatan yang terjadi adalah amal usaha kita, seperti maksiat berupa zina, minum khamr, meninggalkan shalat, berbuat durhaka, dan memutus hubungan rahim. Semuanya kita yang berbuat, bukan siapa-siapa, sehingga kita pantas mendapatkan hukuman karena sikap kita yang meremehkan. Kita sadar bahwa kita bisa memilih tanpa paksaan dalam berbuat, sehingga perbuatan yang ada pantas bila disandarkan kepada kita walaupun memang ilmu Allah ‘azza wa jalla, penulisan, dan ketetapan-Nya telah jauh mendahului.

Takdir tidak boleh menjadi alasan atas perbuatan tercela dan kemungkaran yang dilakukan seorang hamba. Allah ‘azza wa jalla memiliki hikmah yang tinggi dalam apa yang telah lewat pada takdir-Nya, ilmu, dan kitabah-Nya. Kita akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan kita dan sikap kita yang menggampangkan berbuat dosa. Kita bisa disiksa karena perbuatan tersebut terkecuali bila Allah ‘azza wa jalla mengampuni.

Dengan demikian, Anda sekarang telah mengetahui tidak adanya pertentangan antara kedua ayat yang ditanyakan. Yang satu menunjukkan bahwa amalan itu merupakan hasil usaha kita, sehingga kita pantas mendapatkan hukuman bila perbuatan yang dilakukan bukan amalan yang salih. Semua itu adalah amalan kita dengan pilihan kita sendiri.

Ayat yang lain menunjukkan musibah yang terjadi itu telah terdahulu dalam ilmu Allah ‘azza wa jalla, kitabah, dan takdir-Nya. Ada hadits yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bunyinya,

Sungguh, Allah ‘azza wa jalla telah menetapkan takdir-takdir makhluk sebelum Dia menciptakan langit-langit dan bumi 50 ribu tahun dan arsy-Nya di atas air.” (HR. Muslim dalam Shahihnya)

Allah Yang Maha Memiliki hikmah lagi Maha Mengetahui, Dia mengetahui segala sesuatu, ilmu-Nya telah mendahului segala sesuatu, dan Dia telah mencatat segala sesuatu. Dalam satu ayat, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Tidak ada satu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada diri kalian sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (al-Hadid: 22)

Penulisan takdir Allah ‘azza wa jalla telah terdahulu, ilmu-Nya pun telah terdahulu, demikian pula ketetapan-Nya. Amal kita dihitung untuk kita, disandarkan kepada kita, dicatat untuk kita, karena amal tersebut adalah hasil usaha kita, yang kita lakukan dengan pilihan kita, tanpa ada pemaksaan. Karena itu, perbuatan kita yang baik, berupa ketaatan, macam-macam kebaikan dan zikir, dibalas dengan balasan yang baik pula. Sebaliknya kita pantas mendapatkan hukuman atas amalan buruk yang kita lakukan, apakah berupa kedurhakaan, zina, mencuri, seluruh maksiat, dan perbuatan penyelisihan. Wallahul musta’an. (hlm. 128-130)

*Semua fatwa yang dibawakan kali ini diambil dari kitab Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, Masalah Akidah, dari jawaban Samahatusy Syaikh al-Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah.

Anggapan Sial

16.42 Add Comment
Anggapan Sial | al-uyeah.blogspot.com
Tanya:
Apakah dibolehkan bagi seseorang untuk membenarkan atau menganggap sial angka tertentu, demikian pula hari, bulan dan seterusnya?

Jawab:
Asy-Syaikh Muhammad bin IbrahimAlusy Syaikh rahimahullahu menjawab:

“Tidak boleh, bahkan hal itu termasuk kebiasaan orang-orang jahiliyyah yang syirik, di mana Islam datang untuk menolak dan membatilkannya. Dalil-dalil yang ada demikian jelas menyatakan keharaman kebiasaan tersebut. 

Perbuatan atau anggapan sial seperti itu termasuk kesyirikan dan sebenarnya tidak ada pengaruhnya dalam menarik kemanfaatan atau menolak kemudaratan, karena tidak ada yang memberi, yang menolak, yang memberi manfaat dan memberi mudarat kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِنْيَمْسَسْكَاللهُُبِضُرٍّفَلاَكَاشِفَلَهُإِلاَّهُوَوَإِنْيُرِدْكَبِخَيْرٍفَلاَرَادَّلِفَضْلِهِ

Jika Allah menimpakan kepadamu kemudaratan maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia dan bila Dia menghendaki kebaikan bagimu maka tidak ada yang dapat menolak keutamaan-Nya.” (Yunus: 107)

Dalam hadits Ibnu ’Abbas radhiyallahu ‘anhuma disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوِاجْتَمَعَتِاْلأُمَّةُعَلَىأَنْيَّنْفَعُوْكَبِشَيْءٍلَمْيَنْفَعُوْكَإِلاَّبِشَيْءٍقَدْكَتَبَهُاللهُلَكَ،وَإِنِاجْتَمَعُوْاعَلَىأَنْيَّضُرُّوْكَبِشَيْءٍلَمْيَضُرُّوْكَإِلاَّبِشَيْءٍقَدْكَتَبَهُاللهُعَلَيْكَ،رُفِعَتِاْلأَقْلاَمُوَجَفَّتِالصُّحُفُ

"Seandainya umat berkumpul untuk memberikan kemanfaatan bagimu dengan sesuatu niscaya mereka tidak dapat memberikan kemanfaatan bagimu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan sebaliknya, jika mereka semuanya berkumpul untuk memudaratkanmu dengan sesuatu niscaya mereka tidak dapat menimpakan kemudaratan tersebut kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Telah diangkat pena dan telah kering lembaran-lembaran (catatan takdir).”

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

لاَعَدْوَىوَلاَطِيَرَةَوَلاَهَامَةَوَلاَصَفَرَ

"Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah (menganggap sial dengan sesuatu), tidak ada kesialan dengan keberadaan burung hantu dan tidak ada pula kesialan bulan Shafar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam satu riwayat:

لاَنَوْءَوَلاَغُوْلَ

"Tidak ada nau` dan tidak ada ghul.” (HR. Muslim)

Dalam hadits ini penetap syariat (yakni Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) menolak thiyarah berikut apa yang disebutkan dalam hadits. Beliau mengabarkan bahwa thiyarah itu tidak ada wujudnya dan tidak ada pengaruhnya. Thiyarah itu hanyalah anggapan-anggapan keliru dan khayalan-khayalan rusak di dalam hati.

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: (وَلاَصَفَرَ) menolak keyakinan orang-orang jahiliyyah yang menganggap bulan Shafar sebagai bulan sial, mereka mengatakan bulan Shafar adalah bulan bencana. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun meniadakan kebenaran anggapan tersebut dan membatilkannya. Beliau kabarkan bahwa bulan Shafar itu sama dengan bulan yang lain, tidak ada pengaruhnya dalam menarik kemanfaatan dan menolak mudarat. 

Demikian pula hari-hari, malam-malam dan waktu-waktu lain, tidak ada bedanya. Dulunya orang jahiliyyah menganggap sial hari Rabu, menganggap sial untuk melangsungkan pernikahan di bulan Syawwal secara khusus. Sehingga Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku di bulan Syawwal, maka siapakah yang lebih memiliki keutamaan/keberuntungan daripada diriku?"

Hal ini seperti anggapan sial orang-orang Rafidhah terhadap angka sepuluh, dan mereka tidak suka dengan angka ini karena kebencian dan permusuhan mereka terhadap Al-’Asyrah Al-Mubasysyarina bil jannah (10 shahabat Rasulullah yang diberi kabar gembira masuk surga ketika mereka masih hidup). Yang demikian itu disebabkan kebodohan dan kedunguan akal mereka.

Demikian pula ahli nujum, mereka membagi waktu menjadi waktu nahas dan sial. Yang kedua; waktu bahagia dan baik. Tidaklah samar lagi haramnya ramalan bintang ini dan ia termasuk jenis sihir.

Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata:

“Tathayyur adalah menganggap sial dengan apa yang dilihat dan apa yang didengar. Bila seseorang melakukan tathayyur ini, ia membatalkan safar yang semula hendak dilakukannya dan ia menarik diri dari perkara yang semula ia bersikukuh padanya, dengan begitu berarti ia telah mengetuk pintu kesyirikan bahkan ia telah masuk ke dalamnya. 

Ia berlepas diri dari tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia membuka untuk dirinya pintu ketakutan dan bergantung kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang menganggap sial dengan apa yang dilihat atau didengarnya berarti telah memutuskan diri dari apa yang dinyatakan dalam ayat berikut:

إِيَّاكَنَعْبُدُوَإِيَّاكَنَسْتَعِيْنُ

"Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan." (Al-Fatihah: 5)

فَاعْبُدْهُوَتَوَكَّلْعَلَيْهِ

"Maka beribadahlah engkau kepada-Nya dan bertawakallah." (Hud: 123)

عَلَيْهِتَوَكَّلْتُوَإِلَيْهِأُنِيْبُ

"Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku akan kembali." (Asy-Syura: 10)

Jadilah hatinya bergantung kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala baik dalam bentuk ibadah ataupun tawakal, sehingga rusaklah hatinya, iman, dan keadaannya. Tinggallah hatinya menjadi sasaran thiyarah dan senantiasa digiring kepadanya. 

Syaitan pun mendatangi orang yang telah rusak agama dan dunianya ini. Berapa banyak orang yang binasa karenanya dan ia merugi di dunia dan di akhirat. Dalil-dalil tentang haramnya tathayyur dan tasyaum (menganggap sial) ini ma`ruf dan terdapat pada tempat-tempat pembahasannya, maka kita cukupkan dengan apa yang telah disebutkan.

(Fatawa Al-Mar`ah Al-Muslimah 1/132-134)

"Anggapan Sial Terhadap Angka, Hari/Bulan Tertentu"
Forumsalafy.net

Syafaat di Sisi Allah Tidak Sama dengan Syafaat di Antara Makhluk

21.26 Add Comment
Syafaat di Sisi Allah Tidak Sama dengan Syafaat di Antara Makhluk
Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa syafaat di sisi Allah memiliki tujuan dan syarat, yang bila tidak dipenuhi maka seseorang tidak akan mendapatkan syafaat dan tidak bisa memberikannya kepada orang lain. 

Kedua syarat tersebut adalah: Pertama, orang tersebut harus diridhai Allah untuk mendapatkannya. Dan yang akan mendapatkan keridhaan adalah orang-orang yang beriman dan bertauhid. 

Kedua, mendapatkan izin Allah dan yang mendapat izin Allah untuk memberikan syafaat hanyalah orang yang beriman dan bertauhid.

Adapun syafaat di sisi manusia bisa dilakukan oleh siapapun juga baik ada izin atau tidak, diridhai atau tidak. Berdasarkan hal ini, tidak diperbolehkan mengkiaskan syafaat di sisi Allah dengan syafaat di sisi makhluk. 

Dan syafaat yang ada di sisi Allah tidak boleh diminta kepada siapapun dari makhluk, bagaimanapun kedudukan dan tingkatannya, baik dia seorang malaikat, nabi ataukah kepada selain mereka seperti kepada wali, kuburan-kuburan, dan sebagainya.

Syafaat di sisi makhluk kepada yang lain ada dua macam:

Pertama: Syafaat yang baik, yaitu syafaat dalam perkara-perkara yang baik dan bermanfaat serta yang diperbolehkan (mubah), dengan cara menjadikan seseorang sebagai perantara untuk menyampaikan kebutuhannya kepada orang tertentu. Dan ini telah dijelaskan tentang kebolehannya di dalam Al-Qur`an. Firman Allah 'Azza wa Jalla:

مَنْيَشْفَعُشَفَاعَةًحَسَنَةًيَكُنْلَهُنَصِيْبٌمِنْهَا

Barangsiapa memberikan pembelaan yang baik maka dia akan mendapatkan bahagian (pahala) darinya.”(An-Nisa`: 85)

Sebagaimana juga dalam sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:

اشْفَعُواتُؤْجَرُواوَيَقْضِياللهُعَلَىلِسَانِرَسُوْلِهِمَاشَاءَ

Berikanlah pembelaan kalian (yang baik) kalian akan diberikan pahala dan Allah akan memutuskan melalui lisan Rasul-Nya, apa yang dikehendaki-Nya.”

Ini adalah bentuk syafaat yang baik, berpahala, dan juga bermanfaat bagi kaum muslimin agar hajat mereka tertunaikan dan mereka mendapatkan apa yang dicari, tanpa ada unsur mendzalimi dan melampaui batas hak-hak orang lain.

Kedua: Syafaat yang jelek, yaitu menjadi perantara dalam perkara-perkara yang diharamkan Allah. Seperti, syafaat dalam rangka menggugurkan hudud (hukuman) bagi orang yang berhak menerimanya. Dan orang yang melakukan pembelaan seperti ini termasuk dalam orang-orang yang mendapatkan laknat dari Allah, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:

لَعَنَاللهُمَنْآوَىمُحْدِثًا

“Allah melaknat orang-orang yang melindungi pelaku kejahatan.”

Termasuk juga dalam syafaat yang jelek adalah syafaat dalam mengambil hak orang lain kemudian diberikan kepada orang yang tidak berhak. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْيَشْفَعْشَفَاعَةًسَيِّئَةًيَكُنْلَهُكِفْلٌمِنْهَا

Dan barangsiapa memberikan syafaat (pembelaan) yang jelek maka dia akan mendapatkan bagian (dosa) atasnya.”(An-Nisa`: 85) [Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah Asy-Syaikh Shalih Fauzan hal. 21]

Makna Hadits Abu Hurairah radhiallahu 'anhu

Abu Hurairah radhiallahu 'anhu bertanya kepada Rasulullah radhiallahu 'anhu:

(artinya) “Ya Rasulullah, siapakah yang paling beruntung dengan syafaat engkau kelak pada hari kiamat?”Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh aku telah menyangka bahwa tidak ada seseorang yang lebih dahulu bertanya tentang ini kecuali engkau, karena semangatmu dalam mencari hadits.”

Beliau bersabda: “Orang yang paling beruntung dengan syafaatku kelak adalah orang yang mengucapkan La ilaha illallah dengan penuh keikhlasan dari dalam hatinya.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu mengatakan:

“Ucapan beliau: ‘Orang yang mengucapkan La ilaha illallah’adalah untuk mengecualikan orang yang menyekutukan Allah; dan ucapan beliau ‘dengan penuh keikhlasan’mengecualikan orang-orang yang munafiq dalam mengucapkannya. (Lihat Fathul Bari 1/236)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu menjelaskan:

“Kaum musyrikin tidak mendapatkan syafaat sedikitpun, karena mereka tidak mengucapkan La ilahaillallah... Dan (perkataan beliau: dengan penuh keikhlasan) mengecualikan orang yang mengucapkan kalimat Laa ilaha illallah karena kemunafikan, mereka tidak mendapatkan syafaat sedikitpun... 

Dan ucapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ‘dengan penuh keikhlasan’artinya selamat (aqidahnya) tanpa dikotori sedikitpun oleh sifat riya` (ingin pamer dalam beramal) dan sum’ah (memperdengarkan amalnya dengan harapan mendapatkan pujian dari orang lain). Ini merupakan gambaran sebuah persaksian (terhadap La ilaha illallah) dengan penuh keyakinan.”(Lihat Al-Qaulul Mufid 1/440)

Wallahu a‘lam.

Dikutip dari "Benarkah Syafaat Diminta Kepada Selain Allah? Bagian 2"
Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah

Macam-Macam Syafaat

21.22 Add Comment
Macam-Macam Syafaat | al-uyeah.blogspot.com
Telah dibahas oleh para ulama bahwa syafaat secara umum ada dua macam:

Pertama: Syafaat Manfiyyah yaitu syafaat yang ditiadakan oleh Al-Qur`an, yaitu syafaat yang mengandung kesyirikan. 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu menjelaskan: “Allah telah meniadakan segala hal yang dijadikan tempat bergantung kaum musyrikin selain-Nya. Allah meniadakan dari selain-Nya, segala bentuk kepemilikan, bagian atau bantuan untuk Allah. Sehingga tidak tersisa lagi melainkan syafaat.

Dan Allah menjelaskan bahwa syafaat tidak bermanfaat kecuali yang mendapat izin dari Allah, sebagaimana firman Allah: 

“Mereka tidak bisa memberikan manfaat kecuali kepada siapa yang diridhai-Nya.”

Syafaat jenis inilah yang disangka kaum musyrikin (bahwa mereka akan mendapatkannya). Padahal (mereka) tidak akan mendapatkannya pada hari kiamat sebagaimana telah ditiadakan oleh Al-Qur`an.

Dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberitakan bahwa beliau datang menghadap Allah kemudian bersujud dan bertahmid. Dan beliau tidak memulai dengan (meminta) syafaat, kemudian dikatakan kepada beliau: 

“Angkat kepalamu dan katakanlah, maka akan didengar. Dan mintalah, akan diberi. Dan mintalah syafaat, kamu akan diberikan.”Abu Hurairah radhiallahu 'anhu berkata: “Siapakah yang paling berbahagia dengan syafaat engkau?”Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang mengucapkan La ilaha illallah dengan penuh keikhlasan dari dalam hatinya.”

Itulah syafaat bagi orang-orang yang ikhlas dengan izin Allah dan tidak akan diberikan bagi orang yang menyekutukan Allah. 

Hakikatnya adalah Allahlah yang akan memberikan keutamaan kepada orang-orang yang ikhlas. Allah akan mengampuni mereka melalui doa orang yang telah diizinkan untuk memberikan syafaat yang bertujuan untuk memuliakannya dan mendapatkan kedudukan yang terpuji. 

Maka syafaat yang ditiadakan Al-Qur`an adalah syafaat mengandung kesyirikan. 

Oleh karena itu Allah menetapkan adanya syafaat dalam banyak tempat dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa syafaat tidak akan didapati melainkan bagi orang yang bertauhid dan ikhlas.”(Lihat Majmu’Fatawa 1/116 dan Al-Kalam ‘ala Haqiqatil Islam hal. 116-121)

Kedua: Syafaat mutsbatah yaitu syafaat yang keberadaannya ditetapkan Al-Qur`an bagi orang-orang yang bertauhid.

Syafaat ini ada dua bentuk, yang sifatnya umum dan yang sifatnya khusus.

1. Syafaat yang sifatnya khusus

Khusus artinya hanya dimiliki Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan tidak dimiliki oleh selain beliau dari kalangan para nabi dan rasul.

a. Syafaat Al-‘Uzhma atau Al-Kubra yaitu syafaat kepada seluruh manusia di hari mahsyar, sebagaimana dalam riwayat Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu dan juga dari shahabat Anas bin Malik radhiallahu 'anhu. Dalam syafaat ini, para rasul (selain Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam) berlepas diri darinya dan tidak sanggup memberikannya kepada yang lain. Itulah maqam mahmud (kedudukan yang terpuji) bagi imam para rasul sebagaimana telah dijanjikan Allah di dalam Al-Qur`an. Tidak ada penentangan sedikitpun dalam masalah ini baik dari Khawarij ataupun Mu’tazilah

b. Syafaat beliau terhadap penduduk surga untuk masuk ke dalamnya. Karena, setelah mereka melewati Shirath (titian) dan sampai ke surga, mereka menemukannya dalam keadaan tertutup dan mereka meminta siapa yang akan memberikan syafaat. Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam meminta kepada Allah untuk memberikan syafaat kepada mereka. (lihat Al-Qaulul Mufid Syarah Kitab At-Tauhid 1/426)

2. Syafaat yang sifatnya umum

Umum artinya syafaat yang dimiliki oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan selain beliau dari kalangan para nabi dan rasul berikut kaum mukminin.

a. Syafaat bagi para pelaku maksiat dari kalangan umat beliau yang berhak masuk neraka agar tidak memasukinya.

b. Syafaat beliau bagi ahli tauhid yang bermaksiat dan telah masuk ke dalam neraka agar bisa keluar darinya. Hadits yang menjelaskan demikian adalah mutawatir dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan sungguh para shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah ijma’(sepakat) terhadap hal itu, dan begitu pula seluruh Ahlus Sunnah. Dan setiap orang yang mengingkarinya akan dicap sebagai pelaku bid’ah dan mereka disikapi dengan keras dan tegas. Di sinilah letak penentangan kaum Khawarij dan Mu’tazilah, dan kalangan ahli bid’ah yang mengikuti langkah mereka.

c. Syafaat untuk mengangkat derajat kaum mukminin di dalam surga. Dalam syafaat ini tidak ada penentangan sedikitpun baik dari Mu’tazilah atau Khawarij.

Namun yang jelas, semua jenis syafaat ini akan diberikan kepada orang-orang yang bertauhid, yang mereka tidak menjadikan selain Allah sebagai wali (penolong) dan syafi’(pembela). Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

وَأَنْذِرْبِهِالَّذِيْنَيَخَافُوْنَأَنْيُحْشَرُواإِلَىرَبِّهِمْلَيْسَلَهُمْمِنْدُوْنِهِوَلِيٌّوَلاَشَفِيْعٌ

“Dan berikanlah peringatan kepada orang yang takut untuk dibangkitkan ke hadapan Rabb mereka, yang mereka tidak memiliki penolong dan pembela selain Allah.”(Al-An’am: 51) 

[Lihat Fathul Majid hal. 244-252, Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah Ibnu Abil ‘Izzi hal. 232, Al-Qaulul Mufid 1/426, ‘Aqa`id A`immatis Salaf hal.113]

Dikutip dari "Benarkah Syafaat Diminta Kepada Selain Allah? Bagian 2"
Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah

Manusia dan Syafaat

21.17 Add Comment
Manusia dan Syafaat | al-uyeah.blogspot.com
Dalam permasalahan syafaat manusia digolongkan menjadi tiga:

1. Kaum yang ghuluw (berlebihan) di dalam menetapkan adanya syafaat sehingga mereka memintanya dari orang-orang yang telah mati, kuburan, patung-patung, batu-batu, dan pepohonan. 

Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

وَيَعْبُدُوْنَمِنْدُوْنِاللهِمَالاَيَضُرُّهُمْوَلاَيَنْفَعُهُمْوَيَقُوْلُوْنَهَؤُلاَءِشُفَعَاؤُنَاعِنْدَاللهِ

Dan mereka menyembah selain Allah sesuatu yang tidak bisa memberikan kemudharatan dan manfaat kepada mereka, dan mereka mengatakan bahwa mereka (yang disembah itu) adalah pensyafaat kami di sisi Allah.”(Yunus: 18)

مَانَعْبُدُهُمْإِلاَّلِيُقَرِّبُوْنَاإِلَىاللهِزُلْفَى

Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.”(Az-Zumar: 3)

2. Kaum yang berlebihan di dalam menafikan syafaat seperti halnya kaum Mu’tazilah dan Khawarij di mana mereka menafikan adanya syafaat bagi para pelaku dosa besar. 

Mereka berani menyelisihi sesuatu yang dalilnya telah mutawatir dari Al-Qur`an dan As-Sunnah.

3. Kaum yang berada di tengah-tengah, yang menetapkan adanya syafaat sesuai dengan apa yang telah disebutkan oleh Allah dan Rasul-Nya, tanpa tafrith dan ifrath. 

Mereka adalah Ahlus Sunnah. (lihat Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah Asy-Syaikh Shalih Fauzan, hal 21)

Ibnu Abil ‘Izzi menjelaskan:

“Manusia dalam permasalahan syafaat ada tiga (golongan) pendapat:

(Pertama): Musyrikin, Nasrani, dan Sufiyyah yang ghuluw terhadap guru-guru mereka dan selainnya. Mereka meyakini bahwa syafaat orang yang mereka agungkan di sisi Allah bagaikan syafaat di dunia.

(Kedua): Mu’tazilah dan Khawarij. Mereka mengingkari syafaat Nabi kita Shallallahu 'alaihi wa sallam dan selainnya, terhadap pelaku dosa besar.

(Ketiga): Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mereka menetapkan adanya syafaat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan selain beliau terhadap pelaku dosa besar, dan bahwa tidak ada yang bisa memberikan syafaat melainkan dengan izin Allah.(Syarah Aqidah Thahawiyyah hal. 235)

Dikutip dari "Benarkah Syafaat Diminta Kepada Selain Allah? Bagian 2"
Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah