Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Tidak Ada Pertentangan di Antara Ayat Al-Qur’an

04.30 Add Comment
Tidak Ada Pertentangan di Antara Ayat Al-Qur’an | al-uyeah.blogspot.com
Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka hal itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahan kalian.” (asy-Syura: 30)

Dia juga berfirman,

Katakanlah, “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami….” (at-Taubah: 51)

Apa makna kedua ayat ini? Bagaimana menggabungkan keduanya, karena seakan-akan bertentangan?

Jawab:

Tidak ada pertentangan di antara dua ayat ini, wahai saudaraku. Allah ‘azza wa jalla menerangkan kepada kita bahwa musibah yang menimpa kita karena sebab perbuatan kita dan Dia menerangkan pula bahwa apa yang terjadi itu adalah dengan ketetapan dan takdir-Nya.

Katakanlah, “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami….” (at-Taubah: 51)

Ilmu Allah, ketetapan, dan kitabah-Nya (penulisan takdir di Lauh Mahfuzh sebagaimana yang diperintahkan kepada qalam/pena) telah mendahului segala sesuatu. Namun Allah ‘azza wa jalla mengaitkan perkara yang memudaratkan kita karena sebab maksiat-maksiat yang kita lakukan, walaupun semua itu juga sudah tertulis dan sudah ditakdirkan. Sebab, kita memiliki upaya, kita yang berbuat, dan kita sendiri yang memilih.

Segala sesuatu terjadi dengan takdir-Nya, sama saja apakah berupa ketaatan ataupun kemaksiatan. Namun, maksiat yang terjadi pada kita itu adalah usaha kita dan amalan kita, karenanya kita akan dihukum. Kita memiliki akal, keinginan, kemampuan, dan amalan. Karena itulah, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka hal itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahan kalian.” (asy-Syura: 30)

Dalam ayat yang lain,

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari kesalahan/ulah dirimu sendiri.” (an-Nisa: 79)

Takdir dan amal usaha tidaklah saling bertentangan. Takdir itu telah terdahulu dan Allah ‘azza wa jalla memiliki hikmah yang tinggi dalam apa yang ditetapkan-Nya. Perbuatan yang terjadi adalah amal usaha kita, seperti maksiat berupa zina, minum khamr, meninggalkan shalat, berbuat durhaka, dan memutus hubungan rahim. Semuanya kita yang berbuat, bukan siapa-siapa, sehingga kita pantas mendapatkan hukuman karena sikap kita yang meremehkan. Kita sadar bahwa kita bisa memilih tanpa paksaan dalam berbuat, sehingga perbuatan yang ada pantas bila disandarkan kepada kita walaupun memang ilmu Allah ‘azza wa jalla, penulisan, dan ketetapan-Nya telah jauh mendahului.

Takdir tidak boleh menjadi alasan atas perbuatan tercela dan kemungkaran yang dilakukan seorang hamba. Allah ‘azza wa jalla memiliki hikmah yang tinggi dalam apa yang telah lewat pada takdir-Nya, ilmu, dan kitabah-Nya. Kita akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan kita dan sikap kita yang menggampangkan berbuat dosa. Kita bisa disiksa karena perbuatan tersebut terkecuali bila Allah ‘azza wa jalla mengampuni.

Dengan demikian, Anda sekarang telah mengetahui tidak adanya pertentangan antara kedua ayat yang ditanyakan. Yang satu menunjukkan bahwa amalan itu merupakan hasil usaha kita, sehingga kita pantas mendapatkan hukuman bila perbuatan yang dilakukan bukan amalan yang salih. Semua itu adalah amalan kita dengan pilihan kita sendiri.

Ayat yang lain menunjukkan musibah yang terjadi itu telah terdahulu dalam ilmu Allah ‘azza wa jalla, kitabah, dan takdir-Nya. Ada hadits yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bunyinya,

Sungguh, Allah ‘azza wa jalla telah menetapkan takdir-takdir makhluk sebelum Dia menciptakan langit-langit dan bumi 50 ribu tahun dan arsy-Nya di atas air.” (HR. Muslim dalam Shahihnya)

Allah Yang Maha Memiliki hikmah lagi Maha Mengetahui, Dia mengetahui segala sesuatu, ilmu-Nya telah mendahului segala sesuatu, dan Dia telah mencatat segala sesuatu. Dalam satu ayat, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Tidak ada satu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada diri kalian sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (al-Hadid: 22)

Penulisan takdir Allah ‘azza wa jalla telah terdahulu, ilmu-Nya pun telah terdahulu, demikian pula ketetapan-Nya. Amal kita dihitung untuk kita, disandarkan kepada kita, dicatat untuk kita, karena amal tersebut adalah hasil usaha kita, yang kita lakukan dengan pilihan kita, tanpa ada pemaksaan. Karena itu, perbuatan kita yang baik, berupa ketaatan, macam-macam kebaikan dan zikir, dibalas dengan balasan yang baik pula. Sebaliknya kita pantas mendapatkan hukuman atas amalan buruk yang kita lakukan, apakah berupa kedurhakaan, zina, mencuri, seluruh maksiat, dan perbuatan penyelisihan. Wallahul musta’an. (hlm. 128-130)

*Semua fatwa yang dibawakan kali ini diambil dari kitab Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, Masalah Akidah, dari jawaban Samahatusy Syaikh al-Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah.

Anggapan Sial

16.42 Add Comment
Anggapan Sial | al-uyeah.blogspot.com
Tanya:
Apakah dibolehkan bagi seseorang untuk membenarkan atau menganggap sial angka tertentu, demikian pula hari, bulan dan seterusnya?

Jawab:
Asy-Syaikh Muhammad bin IbrahimAlusy Syaikh rahimahullahu menjawab:

“Tidak boleh, bahkan hal itu termasuk kebiasaan orang-orang jahiliyyah yang syirik, di mana Islam datang untuk menolak dan membatilkannya. Dalil-dalil yang ada demikian jelas menyatakan keharaman kebiasaan tersebut. 

Perbuatan atau anggapan sial seperti itu termasuk kesyirikan dan sebenarnya tidak ada pengaruhnya dalam menarik kemanfaatan atau menolak kemudaratan, karena tidak ada yang memberi, yang menolak, yang memberi manfaat dan memberi mudarat kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِنْيَمْسَسْكَاللهُُبِضُرٍّفَلاَكَاشِفَلَهُإِلاَّهُوَوَإِنْيُرِدْكَبِخَيْرٍفَلاَرَادَّلِفَضْلِهِ

Jika Allah menimpakan kepadamu kemudaratan maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia dan bila Dia menghendaki kebaikan bagimu maka tidak ada yang dapat menolak keutamaan-Nya.” (Yunus: 107)

Dalam hadits Ibnu ’Abbas radhiyallahu ‘anhuma disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوِاجْتَمَعَتِاْلأُمَّةُعَلَىأَنْيَّنْفَعُوْكَبِشَيْءٍلَمْيَنْفَعُوْكَإِلاَّبِشَيْءٍقَدْكَتَبَهُاللهُلَكَ،وَإِنِاجْتَمَعُوْاعَلَىأَنْيَّضُرُّوْكَبِشَيْءٍلَمْيَضُرُّوْكَإِلاَّبِشَيْءٍقَدْكَتَبَهُاللهُعَلَيْكَ،رُفِعَتِاْلأَقْلاَمُوَجَفَّتِالصُّحُفُ

"Seandainya umat berkumpul untuk memberikan kemanfaatan bagimu dengan sesuatu niscaya mereka tidak dapat memberikan kemanfaatan bagimu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan sebaliknya, jika mereka semuanya berkumpul untuk memudaratkanmu dengan sesuatu niscaya mereka tidak dapat menimpakan kemudaratan tersebut kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Telah diangkat pena dan telah kering lembaran-lembaran (catatan takdir).”

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

لاَعَدْوَىوَلاَطِيَرَةَوَلاَهَامَةَوَلاَصَفَرَ

"Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah (menganggap sial dengan sesuatu), tidak ada kesialan dengan keberadaan burung hantu dan tidak ada pula kesialan bulan Shafar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam satu riwayat:

لاَنَوْءَوَلاَغُوْلَ

"Tidak ada nau` dan tidak ada ghul.” (HR. Muslim)

Dalam hadits ini penetap syariat (yakni Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) menolak thiyarah berikut apa yang disebutkan dalam hadits. Beliau mengabarkan bahwa thiyarah itu tidak ada wujudnya dan tidak ada pengaruhnya. Thiyarah itu hanyalah anggapan-anggapan keliru dan khayalan-khayalan rusak di dalam hati.

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: (وَلاَصَفَرَ) menolak keyakinan orang-orang jahiliyyah yang menganggap bulan Shafar sebagai bulan sial, mereka mengatakan bulan Shafar adalah bulan bencana. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun meniadakan kebenaran anggapan tersebut dan membatilkannya. Beliau kabarkan bahwa bulan Shafar itu sama dengan bulan yang lain, tidak ada pengaruhnya dalam menarik kemanfaatan dan menolak mudarat. 

Demikian pula hari-hari, malam-malam dan waktu-waktu lain, tidak ada bedanya. Dulunya orang jahiliyyah menganggap sial hari Rabu, menganggap sial untuk melangsungkan pernikahan di bulan Syawwal secara khusus. Sehingga Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku di bulan Syawwal, maka siapakah yang lebih memiliki keutamaan/keberuntungan daripada diriku?"

Hal ini seperti anggapan sial orang-orang Rafidhah terhadap angka sepuluh, dan mereka tidak suka dengan angka ini karena kebencian dan permusuhan mereka terhadap Al-’Asyrah Al-Mubasysyarina bil jannah (10 shahabat Rasulullah yang diberi kabar gembira masuk surga ketika mereka masih hidup). Yang demikian itu disebabkan kebodohan dan kedunguan akal mereka.

Demikian pula ahli nujum, mereka membagi waktu menjadi waktu nahas dan sial. Yang kedua; waktu bahagia dan baik. Tidaklah samar lagi haramnya ramalan bintang ini dan ia termasuk jenis sihir.

Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata:

“Tathayyur adalah menganggap sial dengan apa yang dilihat dan apa yang didengar. Bila seseorang melakukan tathayyur ini, ia membatalkan safar yang semula hendak dilakukannya dan ia menarik diri dari perkara yang semula ia bersikukuh padanya, dengan begitu berarti ia telah mengetuk pintu kesyirikan bahkan ia telah masuk ke dalamnya. 

Ia berlepas diri dari tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia membuka untuk dirinya pintu ketakutan dan bergantung kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang menganggap sial dengan apa yang dilihat atau didengarnya berarti telah memutuskan diri dari apa yang dinyatakan dalam ayat berikut:

إِيَّاكَنَعْبُدُوَإِيَّاكَنَسْتَعِيْنُ

"Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan." (Al-Fatihah: 5)

فَاعْبُدْهُوَتَوَكَّلْعَلَيْهِ

"Maka beribadahlah engkau kepada-Nya dan bertawakallah." (Hud: 123)

عَلَيْهِتَوَكَّلْتُوَإِلَيْهِأُنِيْبُ

"Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku akan kembali." (Asy-Syura: 10)

Jadilah hatinya bergantung kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala baik dalam bentuk ibadah ataupun tawakal, sehingga rusaklah hatinya, iman, dan keadaannya. Tinggallah hatinya menjadi sasaran thiyarah dan senantiasa digiring kepadanya. 

Syaitan pun mendatangi orang yang telah rusak agama dan dunianya ini. Berapa banyak orang yang binasa karenanya dan ia merugi di dunia dan di akhirat. Dalil-dalil tentang haramnya tathayyur dan tasyaum (menganggap sial) ini ma`ruf dan terdapat pada tempat-tempat pembahasannya, maka kita cukupkan dengan apa yang telah disebutkan.

(Fatawa Al-Mar`ah Al-Muslimah 1/132-134)

"Anggapan Sial Terhadap Angka, Hari/Bulan Tertentu"
Forumsalafy.net

Syafaat di Sisi Allah Tidak Sama dengan Syafaat di Antara Makhluk

21.26 Add Comment
Syafaat di Sisi Allah Tidak Sama dengan Syafaat di Antara Makhluk
Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa syafaat di sisi Allah memiliki tujuan dan syarat, yang bila tidak dipenuhi maka seseorang tidak akan mendapatkan syafaat dan tidak bisa memberikannya kepada orang lain. 

Kedua syarat tersebut adalah: Pertama, orang tersebut harus diridhai Allah untuk mendapatkannya. Dan yang akan mendapatkan keridhaan adalah orang-orang yang beriman dan bertauhid. 

Kedua, mendapatkan izin Allah dan yang mendapat izin Allah untuk memberikan syafaat hanyalah orang yang beriman dan bertauhid.

Adapun syafaat di sisi manusia bisa dilakukan oleh siapapun juga baik ada izin atau tidak, diridhai atau tidak. Berdasarkan hal ini, tidak diperbolehkan mengkiaskan syafaat di sisi Allah dengan syafaat di sisi makhluk. 

Dan syafaat yang ada di sisi Allah tidak boleh diminta kepada siapapun dari makhluk, bagaimanapun kedudukan dan tingkatannya, baik dia seorang malaikat, nabi ataukah kepada selain mereka seperti kepada wali, kuburan-kuburan, dan sebagainya.

Syafaat di sisi makhluk kepada yang lain ada dua macam:

Pertama: Syafaat yang baik, yaitu syafaat dalam perkara-perkara yang baik dan bermanfaat serta yang diperbolehkan (mubah), dengan cara menjadikan seseorang sebagai perantara untuk menyampaikan kebutuhannya kepada orang tertentu. Dan ini telah dijelaskan tentang kebolehannya di dalam Al-Qur`an. Firman Allah 'Azza wa Jalla:

مَنْيَشْفَعُشَفَاعَةًحَسَنَةًيَكُنْلَهُنَصِيْبٌمِنْهَا

Barangsiapa memberikan pembelaan yang baik maka dia akan mendapatkan bahagian (pahala) darinya.”(An-Nisa`: 85)

Sebagaimana juga dalam sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:

اشْفَعُواتُؤْجَرُواوَيَقْضِياللهُعَلَىلِسَانِرَسُوْلِهِمَاشَاءَ

Berikanlah pembelaan kalian (yang baik) kalian akan diberikan pahala dan Allah akan memutuskan melalui lisan Rasul-Nya, apa yang dikehendaki-Nya.”

Ini adalah bentuk syafaat yang baik, berpahala, dan juga bermanfaat bagi kaum muslimin agar hajat mereka tertunaikan dan mereka mendapatkan apa yang dicari, tanpa ada unsur mendzalimi dan melampaui batas hak-hak orang lain.

Kedua: Syafaat yang jelek, yaitu menjadi perantara dalam perkara-perkara yang diharamkan Allah. Seperti, syafaat dalam rangka menggugurkan hudud (hukuman) bagi orang yang berhak menerimanya. Dan orang yang melakukan pembelaan seperti ini termasuk dalam orang-orang yang mendapatkan laknat dari Allah, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:

لَعَنَاللهُمَنْآوَىمُحْدِثًا

“Allah melaknat orang-orang yang melindungi pelaku kejahatan.”

Termasuk juga dalam syafaat yang jelek adalah syafaat dalam mengambil hak orang lain kemudian diberikan kepada orang yang tidak berhak. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْيَشْفَعْشَفَاعَةًسَيِّئَةًيَكُنْلَهُكِفْلٌمِنْهَا

Dan barangsiapa memberikan syafaat (pembelaan) yang jelek maka dia akan mendapatkan bagian (dosa) atasnya.”(An-Nisa`: 85) [Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah Asy-Syaikh Shalih Fauzan hal. 21]

Makna Hadits Abu Hurairah radhiallahu 'anhu

Abu Hurairah radhiallahu 'anhu bertanya kepada Rasulullah radhiallahu 'anhu:

(artinya) “Ya Rasulullah, siapakah yang paling beruntung dengan syafaat engkau kelak pada hari kiamat?”Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh aku telah menyangka bahwa tidak ada seseorang yang lebih dahulu bertanya tentang ini kecuali engkau, karena semangatmu dalam mencari hadits.”

Beliau bersabda: “Orang yang paling beruntung dengan syafaatku kelak adalah orang yang mengucapkan La ilaha illallah dengan penuh keikhlasan dari dalam hatinya.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu mengatakan:

“Ucapan beliau: ‘Orang yang mengucapkan La ilaha illallah’adalah untuk mengecualikan orang yang menyekutukan Allah; dan ucapan beliau ‘dengan penuh keikhlasan’mengecualikan orang-orang yang munafiq dalam mengucapkannya. (Lihat Fathul Bari 1/236)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu menjelaskan:

“Kaum musyrikin tidak mendapatkan syafaat sedikitpun, karena mereka tidak mengucapkan La ilahaillallah... Dan (perkataan beliau: dengan penuh keikhlasan) mengecualikan orang yang mengucapkan kalimat Laa ilaha illallah karena kemunafikan, mereka tidak mendapatkan syafaat sedikitpun... 

Dan ucapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ‘dengan penuh keikhlasan’artinya selamat (aqidahnya) tanpa dikotori sedikitpun oleh sifat riya` (ingin pamer dalam beramal) dan sum’ah (memperdengarkan amalnya dengan harapan mendapatkan pujian dari orang lain). Ini merupakan gambaran sebuah persaksian (terhadap La ilaha illallah) dengan penuh keyakinan.”(Lihat Al-Qaulul Mufid 1/440)

Wallahu a‘lam.

Dikutip dari "Benarkah Syafaat Diminta Kepada Selain Allah? Bagian 2"
Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah

Macam-Macam Syafaat

21.22 Add Comment
Macam-Macam Syafaat | al-uyeah.blogspot.com
Telah dibahas oleh para ulama bahwa syafaat secara umum ada dua macam:

Pertama: Syafaat Manfiyyah yaitu syafaat yang ditiadakan oleh Al-Qur`an, yaitu syafaat yang mengandung kesyirikan. 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu menjelaskan: “Allah telah meniadakan segala hal yang dijadikan tempat bergantung kaum musyrikin selain-Nya. Allah meniadakan dari selain-Nya, segala bentuk kepemilikan, bagian atau bantuan untuk Allah. Sehingga tidak tersisa lagi melainkan syafaat.

Dan Allah menjelaskan bahwa syafaat tidak bermanfaat kecuali yang mendapat izin dari Allah, sebagaimana firman Allah: 

“Mereka tidak bisa memberikan manfaat kecuali kepada siapa yang diridhai-Nya.”

Syafaat jenis inilah yang disangka kaum musyrikin (bahwa mereka akan mendapatkannya). Padahal (mereka) tidak akan mendapatkannya pada hari kiamat sebagaimana telah ditiadakan oleh Al-Qur`an.

Dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberitakan bahwa beliau datang menghadap Allah kemudian bersujud dan bertahmid. Dan beliau tidak memulai dengan (meminta) syafaat, kemudian dikatakan kepada beliau: 

“Angkat kepalamu dan katakanlah, maka akan didengar. Dan mintalah, akan diberi. Dan mintalah syafaat, kamu akan diberikan.”Abu Hurairah radhiallahu 'anhu berkata: “Siapakah yang paling berbahagia dengan syafaat engkau?”Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang mengucapkan La ilaha illallah dengan penuh keikhlasan dari dalam hatinya.”

Itulah syafaat bagi orang-orang yang ikhlas dengan izin Allah dan tidak akan diberikan bagi orang yang menyekutukan Allah. 

Hakikatnya adalah Allahlah yang akan memberikan keutamaan kepada orang-orang yang ikhlas. Allah akan mengampuni mereka melalui doa orang yang telah diizinkan untuk memberikan syafaat yang bertujuan untuk memuliakannya dan mendapatkan kedudukan yang terpuji. 

Maka syafaat yang ditiadakan Al-Qur`an adalah syafaat mengandung kesyirikan. 

Oleh karena itu Allah menetapkan adanya syafaat dalam banyak tempat dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa syafaat tidak akan didapati melainkan bagi orang yang bertauhid dan ikhlas.”(Lihat Majmu’Fatawa 1/116 dan Al-Kalam ‘ala Haqiqatil Islam hal. 116-121)

Kedua: Syafaat mutsbatah yaitu syafaat yang keberadaannya ditetapkan Al-Qur`an bagi orang-orang yang bertauhid.

Syafaat ini ada dua bentuk, yang sifatnya umum dan yang sifatnya khusus.

1. Syafaat yang sifatnya khusus

Khusus artinya hanya dimiliki Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan tidak dimiliki oleh selain beliau dari kalangan para nabi dan rasul.

a. Syafaat Al-‘Uzhma atau Al-Kubra yaitu syafaat kepada seluruh manusia di hari mahsyar, sebagaimana dalam riwayat Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu dan juga dari shahabat Anas bin Malik radhiallahu 'anhu. Dalam syafaat ini, para rasul (selain Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam) berlepas diri darinya dan tidak sanggup memberikannya kepada yang lain. Itulah maqam mahmud (kedudukan yang terpuji) bagi imam para rasul sebagaimana telah dijanjikan Allah di dalam Al-Qur`an. Tidak ada penentangan sedikitpun dalam masalah ini baik dari Khawarij ataupun Mu’tazilah

b. Syafaat beliau terhadap penduduk surga untuk masuk ke dalamnya. Karena, setelah mereka melewati Shirath (titian) dan sampai ke surga, mereka menemukannya dalam keadaan tertutup dan mereka meminta siapa yang akan memberikan syafaat. Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam meminta kepada Allah untuk memberikan syafaat kepada mereka. (lihat Al-Qaulul Mufid Syarah Kitab At-Tauhid 1/426)

2. Syafaat yang sifatnya umum

Umum artinya syafaat yang dimiliki oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan selain beliau dari kalangan para nabi dan rasul berikut kaum mukminin.

a. Syafaat bagi para pelaku maksiat dari kalangan umat beliau yang berhak masuk neraka agar tidak memasukinya.

b. Syafaat beliau bagi ahli tauhid yang bermaksiat dan telah masuk ke dalam neraka agar bisa keluar darinya. Hadits yang menjelaskan demikian adalah mutawatir dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan sungguh para shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah ijma’(sepakat) terhadap hal itu, dan begitu pula seluruh Ahlus Sunnah. Dan setiap orang yang mengingkarinya akan dicap sebagai pelaku bid’ah dan mereka disikapi dengan keras dan tegas. Di sinilah letak penentangan kaum Khawarij dan Mu’tazilah, dan kalangan ahli bid’ah yang mengikuti langkah mereka.

c. Syafaat untuk mengangkat derajat kaum mukminin di dalam surga. Dalam syafaat ini tidak ada penentangan sedikitpun baik dari Mu’tazilah atau Khawarij.

Namun yang jelas, semua jenis syafaat ini akan diberikan kepada orang-orang yang bertauhid, yang mereka tidak menjadikan selain Allah sebagai wali (penolong) dan syafi’(pembela). Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

وَأَنْذِرْبِهِالَّذِيْنَيَخَافُوْنَأَنْيُحْشَرُواإِلَىرَبِّهِمْلَيْسَلَهُمْمِنْدُوْنِهِوَلِيٌّوَلاَشَفِيْعٌ

“Dan berikanlah peringatan kepada orang yang takut untuk dibangkitkan ke hadapan Rabb mereka, yang mereka tidak memiliki penolong dan pembela selain Allah.”(Al-An’am: 51) 

[Lihat Fathul Majid hal. 244-252, Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah Ibnu Abil ‘Izzi hal. 232, Al-Qaulul Mufid 1/426, ‘Aqa`id A`immatis Salaf hal.113]

Dikutip dari "Benarkah Syafaat Diminta Kepada Selain Allah? Bagian 2"
Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah

Manusia dan Syafaat

21.17 Add Comment
Manusia dan Syafaat | al-uyeah.blogspot.com
Dalam permasalahan syafaat manusia digolongkan menjadi tiga:

1. Kaum yang ghuluw (berlebihan) di dalam menetapkan adanya syafaat sehingga mereka memintanya dari orang-orang yang telah mati, kuburan, patung-patung, batu-batu, dan pepohonan. 

Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

وَيَعْبُدُوْنَمِنْدُوْنِاللهِمَالاَيَضُرُّهُمْوَلاَيَنْفَعُهُمْوَيَقُوْلُوْنَهَؤُلاَءِشُفَعَاؤُنَاعِنْدَاللهِ

Dan mereka menyembah selain Allah sesuatu yang tidak bisa memberikan kemudharatan dan manfaat kepada mereka, dan mereka mengatakan bahwa mereka (yang disembah itu) adalah pensyafaat kami di sisi Allah.”(Yunus: 18)

مَانَعْبُدُهُمْإِلاَّلِيُقَرِّبُوْنَاإِلَىاللهِزُلْفَى

Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.”(Az-Zumar: 3)

2. Kaum yang berlebihan di dalam menafikan syafaat seperti halnya kaum Mu’tazilah dan Khawarij di mana mereka menafikan adanya syafaat bagi para pelaku dosa besar. 

Mereka berani menyelisihi sesuatu yang dalilnya telah mutawatir dari Al-Qur`an dan As-Sunnah.

3. Kaum yang berada di tengah-tengah, yang menetapkan adanya syafaat sesuai dengan apa yang telah disebutkan oleh Allah dan Rasul-Nya, tanpa tafrith dan ifrath. 

Mereka adalah Ahlus Sunnah. (lihat Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah Asy-Syaikh Shalih Fauzan, hal 21)

Ibnu Abil ‘Izzi menjelaskan:

“Manusia dalam permasalahan syafaat ada tiga (golongan) pendapat:

(Pertama): Musyrikin, Nasrani, dan Sufiyyah yang ghuluw terhadap guru-guru mereka dan selainnya. Mereka meyakini bahwa syafaat orang yang mereka agungkan di sisi Allah bagaikan syafaat di dunia.

(Kedua): Mu’tazilah dan Khawarij. Mereka mengingkari syafaat Nabi kita Shallallahu 'alaihi wa sallam dan selainnya, terhadap pelaku dosa besar.

(Ketiga): Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mereka menetapkan adanya syafaat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan selain beliau terhadap pelaku dosa besar, dan bahwa tidak ada yang bisa memberikan syafaat melainkan dengan izin Allah.(Syarah Aqidah Thahawiyyah hal. 235)

Dikutip dari "Benarkah Syafaat Diminta Kepada Selain Allah? Bagian 2"
Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah

Syarat untuk Mendapatkan Syafaat Allah

21.14 Add Comment
Syarat untuk Mendapatkan Syafaat Allah | al-uyeah.blogspot.com
Syafaat merupakan sesuatu yang dibutuhkan setiap hamba ketika menghadapi kegentingan hidup di dunia maupun di akhirat nanti. Kebutuhan terhadap syafaat menyebabkan sebagian manusia jatuh dalam kesyirikan, yakni dengan memintanya kepada selain Allah. Mereka tidak mengetahui bahwa perbuatan yang mereka lakukan itu justru akan menghalanginya mendapatkan syafaat.

Ada dua syarat bagi seseorang untuk mendapatkan syafaat dan memberikan syafaat di sisi Allah.

Pertama: Orang yang akan memberikan syafaat mendapatkan izin dari Allah. 

Tanpa izin-Nya, tidak ada seorangpun yang sanggup memberikan syafaat di sisi Allah. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

مَنْذَاالَّذِييَشْفَعُعِنْدَهُإِلاَّبِإِذْنِهِ

Tidak ada seorangpunyang memberi syafaat di sisi-Nya melainkan dengan seizin-Nya.”(Al-Baqarah: 255)

Syafaat di sisi Allah tidaklah seperti syafaat makhluk kepada yang lain yang bisa diberikan meskipun tidak diizinkan.

Kedua: Orang yang akan mendapatkan syafaat adalah orang-orang yang diridhai Allah, dan Allah tidak meridhai kekufuran dan kesyirikan namun meridhai keimanan dan ketauhidan.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

وَلاَيَشْفَعُوْنَإِلاَّلِمَنِارْتَضَى

Dan mereka tidak akan memberikan syafaat melainkan kepada orang yang telah Allah ridhai.”(Al-Anbiya`: 28)

وَلاَيَرْضَىلِعِبَادِهِالْكُفْرَ

Dan Allah tidak meridhai kekufuran bagi hamba-hamba-Nya.”(Az-Zumar: 7)

Dan Allah 'Azza wa Jalla telah menghimpun kedua syarat ini di dalam firman-Nya:

وَكَمْمِنْمَلَكٍفِيالسَّمَوَاتِلاَتُغْنِيشَفَاعَتُهُمْشَيْئًاإِلاَّمِنْبَعْدِأَنْيَأْذَنَاللهُلِمَنْيَشَاءُوَيَرْضَى

Dan berapa banyak malaikat yang ada di langit, syafaat mereka tidak berguna sedikitpun kecuali setelah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai.”(An-Najm: 36) 

[lihat Syarah Aqidah Thahawiyyah Asy-Syaikh Shalih Fauzan hal. 21, Al-Qaulul Mufid Syarah Kitab At-Tauhid Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 1/437, Kasyfus Syubhat Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, Qurratu ‘Uyunil Muwahhidin Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab hal. 154, Syarah Lum’atul I’tiqad hal. 130]

Dikutip dari "Benarkah Syafaat Diminta Kepada Selain Allah? Bagian 2"
Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah

Milik Siapakah Syafaat?

21.10 Add Comment
Milik Siapakah Syafaat? | al-uyeah.blogspot.com
Syafaat adalah milik Allah semata, dan semua urusannya kembali kepada Allah. Dialah yang akan memberikan izin kepada siapa yang dikehendaki-Nya untuk mendapatkan dan memberikannya. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

قُلْللهِالشَّفَاعَةُجَمِيْعًا

Katakan bahwa syafaat itu semuanya milik Allah.”(Az-Zumar: 44)

Ibnul Jauzi rahimahullahu dalam tafsirnya mengatakan:

“Seseorang tidak akan sanggup memilikinya melainkan dengan kehendak-Nya. Dan seseorang tidak akan bisa memberikan syafaat melainkan dengan izin-Nya.”(Zadul Masir hal. 1232)

Berdasarkan hal ini, maka meminta syafaat kepada selain pemiliknya merupakan kesyirikan yang sangat besar. Orang yang memintanya kepada selain Allah akan terhalangi untuk mendapatkannya kelak di sisi Allah. Karena orang yang akan mendapatkannya adalah orang yang bersih dari kesyirikan dan mereka yang diridhai.

Apakah Hamba akan Bisa Memberikan Syafaat?

Telah dijelaskan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam Sunnahnya bahwa selain Allah bisa memberikannya, namun tetap tidak terlepas dari kehendak Allah dan harus terpenuhi syaratnya. Mereka adalah para nabi, malaikat, orang-orang yang beriman, dan anak-anak terhadap kedua orang tuanya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

فَيَقُوْلُاللهُعَزَّوَجَلَّ: شَفَعَتِالْمَلاَئِكَةُوَشَفَعَالنَّبِيُّوْنَوَشَفَعَالْمُؤْمِنُوْنَوَلَمْيَبْقَإِلاَّأَرْحَمُالرَّاحِمِيْنَ

Allah 'Azza wa Jalla berfirman: Malaikat akan memberikan syafaat, para nabi memberikan syafaat, dan kaum mukminin akan memberikan syafaat, dan tidak tersisa kecuali milik Allah.”

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمِنْأُمَّتِيمَنْيَشْفَعُلِلْفِئَامِوَمِنْهُمْمَنْيَشْفَعُلِلْقَبِيْلَةِوَمِنْهُمْمَنْيَشْفَعُلِلْعُصْبَةِوَمِنْهُمْمَنْيَشْفَعُلِلرَّجُلِحَتَّىيَدْخُلُواالْجَنَّةَ


Sesungguhnya dari umatku ada orang yang akan memberikan syafaat kepada sekelompok orang. Dan di antara mereka ada juga yang akan memberikan syafaat kepada sebuah qabilah. Dan di antara mereka ada yang memberikan syafaat kepada al-’ushbah. Dan di antara mereka ada yang akan memberikan syafaat kepada satu orang, sehingga mereka masuk surga.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَامِنَالنَّاسِمِنْمُسْلِمٍيُتَوَفَّىلَهُثَلاَثٌلَمْيَبْلُغُواالْحِنْثَإِلاَّأَدْخَلَهُاللهُالْجَنَّةَبِفَضْلِرَحْمَتِهِإِيَّاهُمْ

Tidaklah seorang muslim ditinggal tiga anaknya yang mati belum baligh melainkan Allah akan masukkan dia ke dalam surga dengan keutamaan rahmat-Nya kepada mereka.”

Dan semua hadits yang menjelaskan tentang syafaat memperkuat bahwa di antara hamba-hamba Allah ada yang akan memberikan syafaat di sisi-Nya.

Dikutip dari "Benarkah Syafaat Diminta Kepada Selain Allah? Bagian 2"
Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah

Kaidah Terkait Syafaat

21.06 Add Comment
Kaidah Terkait Syafaat | al-uyeah.blogspot.com
Banyak hal tentang syafaat yang disalahpahami oleh umat. Bahasan lanjutan ini akan mengupas lebih dalam bagaimana sesungguhnya hakekat syafaat.

Para ulama memasukkan pembahasan ini dalam pembahasan aqidah dan orang-orang yang menyelewengkannya dengan menyimpangkan hakikat syafaat, bakal disikapi dengan keras. Di antara mereka yang menyelewengkannya, ada yang ifrath (berlebihan) dalam memaknainya hingga jatuh dalam syirik besar. 

Ada juga yang menempuh jalan tafrith (meremehkan) permasalahan, bahkan menyimpangkannya hingga terjatuh dalam sikap menolak sebagian syafaat. Berdasarkan hal ini, para ulama menyebutkan kaidah-kaidah yang terkait dengan syafaat di dalam kitab mereka. Di antaranya:

Al-Imam Ahmad rahimahullahu mengatakan:

“Beriman dengan syafaat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan beriman dengan adanya suatu kaum yang telah masuk neraka dan telah terbakar serta menjadi arang, kemudian mereka diperintah menuju sebuah sungai yang berada di pintu surga –seperti disebutkan dalam riwayat tentang hal ini–dan (kita imani) bagaimana dan kapan terjadinya. Terhadap yang demikian kita hanya beriman dan mempercayai.”(Ushulus Sunnah Lil Imam Ahmad hal. 32)

Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullahu mengatakan:

“Dan syafaat yang dipersiapkan untuk mereka kelak adalah haq (benar adanya), sebagaimana disebutkan di dalam hadits-hadits.”(Lihat matan Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah, masalah ke-41)

Abu ‘Utsman Isma’il bin Abdurrahman Ash-Shabuni rahimahullahu berkata:

“Ahli agama dan Ahlus Sunnah mengimani syafaat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bagi pelaku dosa dari kalangan orang-orang yang bertauhid dan pelaku dosa besar (lainnya), sebagaimana telah diberitakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih.”(Lihat ‘Aqidatus Salaf Ashabil Hadits hal. 76)

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullahu mengatakan:

“Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam akan memberikan syafaat kepada para pelaku dosa besar yang telah masuk neraka agar mereka bisa keluar setelah mereka terbakar dan menjadi arang, kemudian masuk ke dalam surga. Dan para nabi, orang-orang yang beriman serta malaikat akan memberikan syafaat (dengan seizin Allah). Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

وَلاَيَشْفَعُوْنَإِلاَّلِمَنِارْتَضَىوَهُمْمِنْخَشْيَتِهِمُشْفِقُوْنَ

Dan mereka tidak akan sanggup memberikan syafaat melainkan untuk orang yang Allah ridhai; dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada Allah.”(Al-Anbiya`: 28)

Adapun orang-orang kafir, tidak akan bisa merasakan syafaat orang yang memberi syafaat.”(Syarah Lum’atil I’tiqad, hal. 128)

Para ulama Ahlus Sunnah mengimani bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam akan memberikan syafaat bagi seluruh umat pada hari kiamat nanti, sebagai syafaat yang menyeluruh. Dan bahwa beliau akan memberikan syafaat bagi pelaku dosa dari umat beliau sehingga mengeluarkan mereka setelah menjadi arang. (Lihat ‘Aqa`id A`immatis Salaf, hal. 113)

Mengapa ketika berbicara tentang syafaat, para ulama menitikberatkan pembahasan pada masalah syafaat bagi pelaku dosa besar?

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu telah menjawabnya dengan mengatakan:

“Ibnu Katsir dan pensyarah kitab Ath-Thahawiyyah mengatakan: ‘Maksud ulama salaf meringkas pembahasannya dalam masalah syafaat hanya kepada pelaku dosa besar adalah sebagai bantahan terhadap Khawarij dan kalangan Mu’tazilah yang mengikuti konsep mereka (karena dua kelompok ini mengingkari syafaat tersebut, ed)’.”(Syarah Lum’atil I’tiqad hal. 129)

Dikutip dari "Benarkah Syafaat Diminta Kepada Selain Allah? Bagian 2"
Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah

Syarat Syafaat

20.56 Add Comment
Syarat Syafaat | al-uyeah.blogspot.com
Kedua: Adapun syafaat yang keberadaannya ditetapkan oleh Allah 'Azza wa Jalla yaitu syafaat yang memenuhi beberapa syarat:

1. Kemampuan orang yang akan memberikan syafaat

Sebagaimana firman Allah 'Azza wa Jalla ketika menjelaskan ketidaksanggupan orang-orang yang dimintai syafaat:

وَيَعْبُدُوْنَمِنْدُوْنِاللهَمَالاَيَضُرُّهُمْوَلاَيَنْفَعُهُمْوَيَقُوْلُوْنَهَؤُلاَءِشُفَعَاؤُنَاعِنْدَاللهِ

Dan mereka menyembah selain Allah sesuatu yang tidak bisa memberikan kemudaratan bagi mereka dan tidak pula manfaat. Dan mereka mengatakan: ‘Mereka adalah para pensyafaat kami di sisi Allah’.” (Yunus: 18)

وَلاَيَمْلِكُالَّذِيْنَيَدْعُوْنَمِنْدُوْنِهِالشَّفَاعَةَإِلاَّمَنْشَهِدَبِالْحَقِّوَهُمْيَعْلَمُوْنَ

Dan tidaklah orang-orang yang mereka seru selain Allah memiliki syafaat akan tetapi (orang yang akan bisa memberi syafaat adalah) orang yang mengakui hak (tauhid) dan meyakini-(nya).” (Az-Zukhruf: 86)

Dari kedua ayatdi atas diketahui bahwa syafaat yang diminta dari orang yang telah mati adalah permintaan kepada mereka yang tidak memilikinya.

2. Yang akan diberikan syafaat adalah muslim yang bertauhid

Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

مَالِلظَّالِمِيْنَمِنْحَمِيْمٍوَلاَشَفِيْعٍيُطَاعُ

Orang-orang yang dzalim tidak memiliki teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafaat yang diterima syafaatnya.” (Ghafir: 18)

Yang dimaksud dengan orang dzalim di sini adalah orang kafir, dengan dalil hadits mutawatir tentang adanya syafaat bagi pelaku dosa besar. Al-Imam Al-Baihaqi di dalam kitab Syu’abul Iman (1/205) menjelaskan: “Orang-orang dzalim yang dimaksud di sini adalah orang-orang kafir. Dan hal ini dikuatkan oleh awal ayat yang menjelaskan tentang orang kafir.”

Ibnu Katsir rahimahullahu menjelaskan:

“Artinya, tidaklah orang-orang yang mendzalimi dirinya dengan kesyirikan kepada Allah 'Azza wa Jalla akan mendapatkan manfaat dari teman dekat mereka, dan tidak pula ada seorang penolong yang akan memberikan pembelaan. Sungguh telah terputus segala hubungan dekat dari segala kebaikan.”

Dikecualikan dari semuanya itu adalah Abu Thalib, paman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sesung-guhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan syafaat kepadanya sehingga dia berada di bagian atas (bagian yang teringan, -red.) api neraka.

3. Ada izin bagi pemberi syafaat

Sebagaimana firman Allah 'Azza wa Jalla:

مَنْذَاالَّذِييَشْفَعُعِنْدَهُإِلاَّبِإِذْنِهِ

Tidak ada seorangpun yang memberi syafaat di sisi-Nya melainkan dengan seizin-Nya.” (Al-Baqarah: 255)

4. Yang akan mendapatkan syafaat adalah yang diridhai oleh Allah 'Azza wa Jalla

Sebagaimana firman Allah 'Azza wa Jalla:

وَكَمْمِنْمَلَكٍفِيالسَّمَوَاتِلاَتُغْنِيشَفَاعَتُهُمْشَيْئًاإِلاَّمِنْبَعْدِأَنْيَأْذَنَاللهُلِمَنْيَشَاءُوَيَرْضَى

Dan berapa banyaknya malaikat yang ada di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna kecuali setelah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai.” (An-Najm: 36)

Adapun dalil-dalil dari Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sangatlah banyak, dan cukup kita menukilkan beberapa di antaranya:

1. Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَنَاسَيِّدُوَلَدِآدَمَيَوْمَالْقِيَامَةِوَأَوَّلُمَنْيُنْشَقُّعَنْهُالْقَبْرُوَأَوَّلُشَافِعٍوَأَوَّلُمُشَفَّعٍ

Aku adalah sayyid (pimpinan) anak Adam pada hari kiamat dan orang yang pertama kali dibangkitkan dari kuburnya, dan orang yang pertama kali memberi syafaat dan yang diberikan hak syafaat.”

2. Diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, tentang firman Allah 'Azza wa Jalla:

عَسَىأَنْيَبْعَثَكَرَبُّكَمَقَامًامَحْمُوْدًا

Semoga Allah membangkitkan kamu (Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam) pada kedudukan yang terpuji.” (Al-Isra`: 79)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang ayat ini, beliau pun menjawab:

هِيَالشَّفَاعَةُ

Itulah syafaat.

3. Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dari shahabat Jabir bin Abdullah radhiallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أُعْطِيْتُخَمْسًالَمْيُعْطَهُنَّأَحَدٌقَبْلِي: نُصِرْتُبِالرُّعْبِمَسِيْرَةَشَهْرٍ،وَجُعِلَتْلِيَاْلأَرْضُمَسْجِدًاوَطَهُوْرًافَأَيُّمَارَجُلٍمِنْأُمَّتِيأَدْرَكَتْهُالصَّلاَةُفَلْيُصَلِّ،وَأُحِلَّتْلِيَالْمَغَانِمُوَلَمْتُحَلَِّلأَحَدٍقَبْلِي،وَأُعْطِيْتُالشَّفَاعَةَ،وَكَانَالنَّبِيُّيُبْعَثُإِلَىقَوْمِهِخَاصَةًوَبُعِثْتُإِلَىالنَّاسِعَامَةً


Aku diberikan lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada seorang nabipun sebelumku: Aku diberi kemenangan dengan takutnya musuh dari jarak satu bulan perjalanan; dijadikan bumi sebagai masjid (tempat shalat) dan alat bersuci, sehingga di mana saja seseorang dijumpai (oleh waktu) shalat maka hendaklah dia shalat; dihalalkan bagiku memakan harta ghanimah yang tidak dihalalkan (kepada seorang nabi pun) sebelumku; aku diberikan syafaat; dan nabi-nabi sebelumku diutus kepada kaumnya sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia.”

Dikutip dari "Benarkah Syafaat Diminta Kepada Selain Allah, Bagian 1"
Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi

Pembagian Syafaat

20.48 Add Comment
Pembagian Syafaat | al-uyeah.blogspot.com
Di dalam Al-Qur`an disebutkan pembagian syafaat, yaitu syafaat yang mutsbatah (yang ditetapkan) dan yang manfiyyah (ditiadakan). Penetapan dan peniadaan itu terkait dengan syafaat itu sendiri atau dengan orang yang akan memberikan syafaat. Kita akan menukilkan beberapa di antaranya:

1. Ayat-ayat yang menafikan (meniadakan) syafaat dan pemberinya.

Firman Allah 'Azza wa Jalla:

وَاتَّقُوايَوْمًالاَتَجْزِينَفْسٌعَنْنَفْسٍشَيْئًاوَلاَيُقْبَلُمِنْهَاشَفَاعَةٌوَلاَيُؤْخَذُمِنْهَاعَدْلٌوَلاَهُمْيُنْصَرُوْنَ

Dan jagalah dirimu dari (adzab) pada hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain walau sedikitpun, dan tidak diterima syafaat dan tebusan darinya dan tidaklah mereka akan ditolong.” (Al-Baqarah: 48)

يَاأَيُّهَاالَّذِيْنَآمَنُواأَنْفِقُوامِمَّارَزَقْنَاكُمْمِنْقَبْلِأَنْيَأْتِيَيَوْمٌلاَبَيْعٌفِيْهِوَلاَخُلَّةٌوَلاَشَفَاعَةٌوَالْكَافِرُوْنَهُمُالظَّالِمُوْنَ

Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rizki yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan yang akrab, dan tidak ada lagi syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang dzalim.” (Al-Baqarah: 254)

أَأََتَّخِذُمِنْدُوْنِهِآلِهَةًإِنْيُرِدْنِالرَّحْمَنُبِضُرٍّلاَتُغْنِعَنِّيشَفَاعَتُهُمْشَيْئًاوَلاَيُنْقِذُوْنَ

Mengapa aku akan menyembah sesembahan selain-Nya, jika (Allah 'Azza wa Jalla) yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak akan memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku.” (Yasin: 23)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang semisal dengan di atas seperti dalam surat Al-An’am ayat 51 dan 70, Yunus ayat 18, Asy-Syu’ara‘ ayat 100-102, As-Sajdah ayat 4, Az-Zumar ayat 43-44, dan Ghafir ayat 18.

2. Ayat-ayat yang menetapkan syafaat dan pemberinya.

مَنْذَاالَّذِييَشْفَعُعِنْدَهُإِلاَّبِإِذْنِهِ

Tidak ada seorangpun yang memberi syafaat di sisi-Nya melainkan dengan seizin-Nya.” (Al-Baqarah: 255)

مَامِنْشَفِيْعٍإِلاَّمِنْبَعْدِإِذْنِهِ

Tidak ada seorangpun yang akan memberikan syafaat melainkan dengan seizin-Nya.” (Yunus: 3)

وَكَمْمِنْمَلَكٍفِيالسَّمَوَاتِلاَتُغْنِيشَفَاعَتُهُمْشَيْئًاإِلاَّمِنْبَعْدِأَنْيَأْذَنَاللهُلِمَنيَشَاءُوَيَرْضَى

Dan berapa banyaknya malaikat yang ada di langit, syafaat mereka sedikipun tidak berguna kecuali setelah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai.” (An-Najm: 36)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang semisal dengan di atas seperti dalam surat Al-Anbiya` ayat 26-28, Thaha ayat 105-109, Az-Zukhruf ayat 86.

Cara men-jama’ (mengkompromi-kan) kedua macam ayat di atas adalah sebagai berikut:

Pertama: Sesungguhnya syafaat yang dinafikan oleh Allah 'Azza wa Jalla adalah syafaat yang diminta kepada selain Allah 'Azza wa Jalla, sebagaimana firman Allah 'Azza wa Jalla:

قُلْللهِالشَّفَاعَةُجَمِيْعًا

Katakan bahwa syafaat itu semuanya milik Allah.” (Az-Zumar: 44)

Kedua: Adapun syafaat yang keberadaannya ditetapkan oleh Allah 'Azza wa Jalla yaitu syafaat yang memenuhi beberapa syarat

Dikutip dari "Benarkah Syafaat Diminta Kepada Selain Allah, Bagian 1"
Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi

Hakikat Syafaat

20.38 Add Comment
Hakikat Syafaat | al-uyeah.blogspot.com
Di antara kemungkaran besar dari sekian kemungkaran yang melanda kaum muslimin adalah meminta syafaat kepada selain Allah 'Azza wa Jalla.

Hakikat Syafaat

Ibnul Atsir rahimahullahu menjelaskan:

“Dan tentang syafaat, telah disebutkan berulang-ulang di dalam banyak hadits, baik yang berkaitan dengan urusan-urusan dunia ataupun akhirat. (Yang dimaksud dengan syafaat) yaitu: Meminta agar dimaafkan dari segala dosa dan kesalahan di antara mereka. Juga dikatakan:

شَفَعَ،يَشْفَعُ،شَفَاعَةٌفهوشَافِعٌوشَفِيْعٌ

Al-Musyaffi’ artinya orang yang menerima syafaat, dan al-musyaffa’ artinya orang yang diterima syafaatnya.” (An-Nihayah, 2/485)

Gambaran makna yang dijelaskan oleh Ibnu Atsir rahimahullahu ini menjadi jelas dengan hadits yang mauquf pada Az-Zubair bin Al-‘Awwam radhiallahu 'anhu, sebagaimana yang dikatakan oleh Asy-Syaikh Muqbil di dalam kitab Asy-Syafa’ah (hal.13):

إِذَابَلَغَحَدُّالسُّلْطَانَفَلَعَنَاللهُالشَّافِعَوَالْمُشَفِّعَ

“Apabila telah sampai hukuman penguasa (terhadap seseorang) maka Allah melaknat orang yang memberi syafaat (pembelaan) dan orang yang menerima syafaat.”

Asy-Syaikh Muqbil (Asy-Syafa’ah, hal. 13) menukilkan dari kitab Al-Qamus dan Taajul ‘Arus:

“Asy-Syafii’ artinya pemilik syafaat. Bentuk jamaknya adalah syufa’aa` yaitu orang yang meminta orang lain untuk membela apa yang diinginkannya.”

Dalil-dalil tentang Syafaat

Permasalahan syafaat diakui adanya, bahkan oleh orang-orang kafir sekalipun. Bahkan mereka berusaha untuk merebut syafaat di sisi Allah 'Azza wa Jalla dengan cara batil yaitu memintanya kepada selain Allah 'Azza wa Jalla. 

Mereka mengharapkan syafaat dari tuhan-tuhan yang mereka sembah. Allah 'Azza wa Jalla telah menjelaskan tujuan mereka mendekatkan diri kepada sesembahan selain Allah 'Azza wa Jalla, yang tidak berakal dan tidak bisa berbuat apa-apa, padahal mereka meyakini bahwa yang meciptakan, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, mendatangkan manfaat, menolak mudharat dan sebagainya adalah Allah 'Azza wa Jalla. Dua tujuan tersebut adalah:

Pertama: Agar tuhan-tuhan yang mereka sembah itu mendekatkan mereka kepada Allah 'Azza wa Jalla dengan sedekat-dekatnya. 

Dan tujuan ini telah disebutkan oleh Allah 'Azza wa Jalla di dalam firman-Nya, bahwa mereka mengatakan:

مَانَعْبُدُهُمْإِلاَّلِيُقَرِّبُوْنَاإِلَىاللهِزُلْفَى

Tidaklah kami menyembah mereka kecuali agar mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az-Zumar: 3)

Kedua: Agar tuhan-tuhan yang mereka sembah itu memberikan pembelaan di hadapan Allah 'Azza wa Jalla. 

Dan tujuan ini telah disebutkan oleh Allah 'Azza wa Jalla di dalam firman-Nya:

وَيَعْبُدُوْنَمِنْدُوْنِاللهِمَالاَيَضُرُّهُمْوَلاَيَنْفَعُهُمْوَيَقُوْلُوْنَهَؤُلاَءِشُفَعَاؤُنَاعِنْدَاللهِ

Dan mereka menyembah kepada selain Allah sesuatu yang tidak bisa memberikan kemudharatan dan manfaat kepada mereka, dan mereka mengatakan bahwa sesembahan itu adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah.” (Yunus: 18)

Dikutip dari "Benarkah Syafaat Diminta Kepada Selain Allah, Bagian 1"
Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi

Bahaya Kerusakan Aqidah

20.14 Add Comment
Bahaya Kerusakan Aqidah | al-uyeah.blogspot.com
Asy-Syaikh Ibnu Baz mengatakan bahwa orang-orang yang menyelisihi aqidah yang benar dan terus berjalan dalam memeranginya jumlahnya banyak sekali:

Pertama, para penyembah patung, berhala, malaikat, wali-wali, jin, pohon-pohon, batu-batu dan lain sebagainya.

Kedua, orang-orang yang beraqidah ilhad (ingkar/menyeleweng) di masa sekarang ini, yang mereka adalah pengikut Marxis dan Lenin serta penyeru-penyeru ilhad dan kufur selain mereka, apapun istilah mereka; kapitalisme, komunisme, ba’tsiyyah (sosialisme) dan sebagainya. Karena konsep dasar mereka adalah tidak ada Tuhan dan bahwa kehidupan itu hanyalah materiil. Termasuk prinsip dasar mereka adalah ingkar kepada hari akhir, ingkar kepada surga, neraka dan ingkar terhadap seluruh agama.

Ketiga, apa-apa yang diyakini oleh sebagian aliran kebatinan atau sebagian orang-orang sufi bahwa di antara tokoh atau wali-wali mereka ada yang berkedudukan seperti Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam pengaturan alam ini dan mereka namakan dengan aqthab, autad, aqwas dan sebagainya. (disarikan dari Al-‘Aqidah Ash-Shahihah secara ringkas, hal. 20 dan seterusnya)

Bahaya Kerusakan Aqidah

Bahaya kerusakan aqidah berbentuk laten baik terhadap individu, jamaah atau ummat di dunia dan di akhirat.

Di antara bahaya-bahayanya adalah :

a) Menjerumuskan seseorang atau jamaah ke dalam lubang kesyirikan dan kekufuran serta pengingkaran terhadap aqidah yang benar yang diturunkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan dibawa oleh Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam

b) Menolak ketentuan-ketentuan syariat dan mengutamakan ajaran nenek moyang, fanatisme, akal dan sebagainya daripada ketentuan-ketentuan syariat tersebut

c) Mengakibatkan kehinaan, keterbe-lakangan dan kerendahan umat Islam sepanjang masa dan tempat

d) Memecah belah persatuan umat, menghancurkan kejayaan mereka serta menghancurkan kemenangan demi kemenangan yang mereka telah raih

e) Menjauhkan kaum muslimin dari pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala

f) Menyebabkan terjatuh ke dalam neraka dan kekal di dalamnya (dinukil secara makna dari Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah, hal. 22 dan seterusnya)

Seruan Allah Kepada Umat

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya, amat sedikitlah kalian mengambil pelajaran (darinya).”(Al-A’raf: 3)

“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta.”(Al-An’am: 116)

“Katakanlah: ‘Hai ahli kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. (Al-Maidah: 77)

Wallahu a’lam.

Dikutip dari "Bahaya Laten Penyimpangan Aqidah"
Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An-Nawawi

Taqlid

20.09 Add Comment
Taqlid | al-uyeah.blogspot.com
Aqidah yang rusak adalah lawan aqidah shahihah. Yaitu aqidah yang terambil dari peninggalan nenek moyang (taqlid), dari fanatisme golongan, jamaah, atau individu, dan yang terambil dari akal. Tentang aqidah yang rusak ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan di dalam firman-Nya:

Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.’(Rasul itu) berkata: ‘Apakah kamu akan mengikuti mereka, sekalipun aku membawa untuk kalian (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?’Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami mengingkari yang kamu diutus untuk menyampaikannya’.”(Az-Zukhruf: 23-24)

Dan apabila dikatakan kepada mereka (orang-orang kafir): ‘Ikutilah apa yang diturunkan oleh Allah!’Mereka mengatakan: ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.’(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”(Al-Baqarah: 170)

Maka tatkala Musa datang kepada mereka dengan membawa mu’jizat-mu’jizat Kami yang nyata, mereka berkata: ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang dibuat-buat dan kami belum pernah mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami dulu’.”(Al-Qashash: 36)

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah oleh kalian Allah (karena) sekali-kali tidak ada sembahan bagi kalian selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya).’Maka pemuka-pemuka orang yang kafir diantara kaumnya menjawab: ‘Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kalian, yang bermaksud hendak menjadi orang yang lebih tinggi dari kalian. Dan kalau Allah menghendaki, tentu dia mengutus beberapa orang malaikat, belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami dahulu. Ia tidak lain hanyalah seseorang lelaki yang berpenyakit gila, maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu’.”(Al-Mu’minun: 23-25)

Mereka menjadikan orang alim dan rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putra Maryam padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa”. (At-Taubah: 31)

Ayat ini ditafsirkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada ‘Adi bin Hatim ketika ia datang dalam keadaan sudah menjadi seorang muslim (sebelumnya ia adalah seorang Nasrani) sebagaimana riwayat Al-Imam Ahmad dalam Musnad beliau (4/378) dan Al-Imam At-Tirmidzi (no. 3094). ‘Adi bin Hatim menemui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam membacakan ayat ini. ‘Adi bin Hatim berkata: “Mereka tidak menyembahnya.”Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: “Bahkan (mereka menyembahnya), (bukankah) mereka (orang alim dan pendeta-pendeta tersebut) telah mengharamkan apa yang dihalalkan atas mereka, dan menghalalkan apa yang telah diharamkan atas mereka lalu mereka mengikutinya? Itulah penyembahan kepada mereka.”(Dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ghayatul Maram no. 6)

Ayat-ayat di atas menjelaskan corak aqidah batil yang diambil dari ajaran nenek moyang, ajaran seseorang atau kelompoknya. Ayat-ayat di atas juga menjelaskan corak kehidupan jahiliyyah yang melilit leher-leher mereka dengan belenggu taqlid. Juga corak kehidupan Yahudi dan Nasrani yang dikungkung dalam penjara ghuluw (berlebihan) dalam mensikapi tokoh-tokoh mereka.

Oleh karena itu mereka terus menerus berlabuh di lautan kebodohan dengan perahu tanpa nahkoda. Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitab Masail Al-Jahiliyyah mengatakan: “Sesungguhnya keyakinan (agama) mereka dibangun di atas prinsip-prinsip dasar yang paling besar yaitu taqlid (mengekor), dan ini merupakan kaidah yang besar terhadap seluruh agama kekafiran yang dulu ataupun yang terakhir.”

Dikutip dari "Bahaya Laten Penyimpangan Aqidah"
Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An-Nawawi

Aqidah Adalah Pondasi Islam

20.02 Add Comment
Aqidah Adalah Pondasi Islam | al-uyeah.blogspot.com
Aqidah adalah sesuatu yang sangat penting karena di atasnya dibangun amalan-amalan seorang muslim. Artinya, bila aqidah ini rusak maka amalan yang terbangun di atasnya akan ikut rusak pula. Aqidah terhadap amalan bagaikan ruh terhadap jasad seseorang. Nilai sebuah amalan tergantung pada bagus atau tidaknya dasar amalan tersebut. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits:

Dari Ibnu ‘Umar radhiallahu 'anhuma berkata:
“Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: ‘Islam di bangun di atas lima dasar: bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah dan berpuasa di bulan Ramadhan’.”(Shahih, HR. Al-Bukhari no. 7 dan Muslim no. 16)

Al-Imam An-Nawawi mengatakan:
“Sesungguhnya hadits ini adalah dasar yang agung dalam mengilmui agama dan di atas dasar inilah Islam tegak, dan hadits ini telah menghimpun rukun-rukun agama.”(Syarah Shahih Muslim, 1/152)

Aqidah yang Benar

Telah disebutkan bahwa aqidah merupakan ruh dari semua amalan di dalam Islam. Akan tetapi pada kenyataannya banyak jenis aqidah berkembang di tengah kaum muslimin. Manakah yang menjadi pondasi Islam tersebut? Dan manakah aqidah yang bukan menjadi pondasinya?

Aqidah yang benar adalah aqidah yang terambil dari Al Qur’an dan As Sunnah sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam. Aqidah inilah yang menjadi pondasi Islam dan yang menjadi asas diterimanya seluruh amalan. Inilah makna ucapan Al-Imam Asy-Syafi’i ketika beliau menyatakan, “Aku beriman kepada Allah dan (kepada) apa-apa yang diutus-Nya sesuai dengan apa yang dimaukan-Nya”.1 (Ar-Risalah, hal. 7, Majmu’Fatawa, 4/182-184, dan Ijtima’Al-Juyusy, hal. 164-165)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:
“Ucapan Asy-Syafi’i adalah haq, wajib atas setiap muslim untuk meyakininya. Barangsiapa meyakininya dan tidak melakukan apa-apa yang akan membatalkannya maka sungguh dia telah menempuh jalan keselamatan di dunia dan di akhirat.”

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu mengatakan:
“Ucapan Al-Imam Asy-Syafi’i mengandung keimanan kepada apa yang datang dari Allah di dalam kitab-Nya sesuai dengan apa yang dimaukan-Nya tanpa menambah, mengurangi dan menyelewengkannya.”(Lum’atul ‘Itiqad, hal. 37)

Asy-Syaikh Ibnu Baz mengatakan:
“Telah jelas dengan dalil-dalil syar’i dari Al Qur’an dan As Sunnah bahwa amalan-amalan serta semua ucapan akan sah diterima apabila muncul dari aqidah yang benar. Apabila aqidah tersebut batil maka batal pula seluruh amalan dan ucapan yang dibangun di atasnya. Sebagaimana firman Allah:

Barangsiapa yang mengingkari keimanan maka sungguh telah terhapus amalannya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi”. (Al-Maidah: 5)

Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu (bahwa) jika kamu menyekutukan Allah niscaya benar-benar amalmu akan terhapus dan kamu benar-benar termasuk orang-orang yang merugi.”(Az-Zumar: 65)

Ayat-ayat yang semakna dengan ini banyak sekali. Al Qur’an dan As Sunnah telah menunjukkan bahwa aqidah yang benar adalah aqidah yang terhimpun dan terangkum di dalam rukun iman yaitu beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kepada malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada rasul-rasul-Nya, kepada hari kiamat, dan kepada takdir Allah yang baik maupun buruk. Perkara yang enam ini merupakan prinsip-prinsip dasar aqidah yang benar, yang karenanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan Al Qur’an dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengutus Rasul-Nya Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. (Al-‘Aqidah Ash-Shahihah, hal. 3)

Kesimpulannya, aqidah yang benar adalah aqidah yang diambil dari Al Qur’an dan As Sunnah sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah dan Rasul-Nya. Aqidah yang benar ini adalah asas yang Islam dibangun di atasnya dan pondasi dibangunnya seluruh amalan dan ucapan yang diridhai Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Dikutip dari "Bahaya Laten Penyimpangan Aqidah"
Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An-Nawawi

[AUDIO] Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits - Ust. Muhammad As-Sewed

19.08 Add Comment
Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits | al-uyeah.blogspot.com
Al-Ustadz Muhammad As-Sewed
Bermula 30 Syawwal 1435H,
Cirebon



[Sesi 1] - Muqaddimah tentang Imam Ash-Shoobuni dan
Pentingnya pembahasan Aqidah di sisi Ahlussunnah

[Sesi 2], [Sesi 3], [Sesi 4]

[Sesi 5] - Tentang Firqoh Lafdziyah Penolak Kalam Allah

[Sesi 6] - Tentang Al-Lafdziyyah adalah Jahmiyah

[Sesi 7] - Tentang Al-Qur'an bukan makhluq dan masalah Istiwa Allah di atas Arsy

[Sesi 8] - Pembahasan lanjutan Masalah Istiwa - Allah di atas 'Arsy-Nya, dan 'Arsy Allah tinggi di atas langit-langit-Nya, dan bahwasanya Allah Maha dekat di ketinggian-Nya

[Sesi 9] - Pembahasan lanjutan Masalah Istiwa - Kita Mengenali Allah bahwa Allah Maha Tinggi di atas 7 Langit-Nya Terpisah dari makhluq-Nya

[Sesi 10] - Pembahasan lanjutan Masalah Istiwa - Keimanan bahwa Allah di atas Langit menunjukkan Mukmin dengan Keimanan secara Dhohir

[Sesi 11] - Pembahasan lanjutan masalah Istiwa - Keyakinan dalam masalah Aqidah (Jika telah Shahih Hadits maka itulah madzhab)

Klik kanan link kemudian pilih "Save Link As". Semoga bermanfaat. Baarakallahu fiikum
alfawaaid.net

[AUDIO] Kitab at Tauhid - Ust. Luqman Ba'abduh

19.54 Add Comment
Kitab at Tauhid | al-uyeah.blogspot.com
Ustadz Abu 'Abdillah Luqman Ba'abduh hafizhahullah. Pembahasan Kitab at Tauhid karya asy Syaikh al Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin 'Ali at Tamimi an Najdy rahimahullah




Download 
35. Bab 13-Sesi Tanya Jawab

Klik kanan link kemudian pilih "Save Link As". Semoga bermanfaat. Baarakallahu fiikum
ilmusyari.com